Pujian Sang Wakil Bupati di Instagram

WAKIL Bupati Pemalang, Mansur Hidayat, memuji resto istri saya, Warung Selat Mbak Lies, di Akun Instagramnya.

“Kuliner khas Solo yang wajib dicoba,” demikian antara lain sang wakil bupati menulis.

Mansur Hidayat dan rombongan mengunjungi resto istri saya, Warung Selat Mbak Lies, pada Sabtu siang, 23 Oktober 2021.

Saat itu, karena akhir pekan, resto istri saya lebih ramai daripada hari-hari biasa, dan banyak pengunjung datang dari luar kota.

Istri saya, yang duduk di kursi kasir, tidak menyadari bahwa salah satu pengunjung restonya saat itu adalah pesohor, seorang pejabat tinggi, wakil bupati Pemalang.

Sampai kemudian seorang pria, ajudan sang wakil bupati, memberi tahu istri saya.

“Penampilannya sederhana, dan orangnya ramah,” kata istri saya mengisahkan sosok Wakil Bupati Mansur Hidayat kepada saya.

Adapun hasil pencarian saya di internet, pria berusia 46 tahun (kelahiran Pemalang 30 Desember 1975) ini menjabat sejak 26 Februari 2021, bersama Bupati Mukti Agung Wibowo.

Mereka dijagokan oleh PPP dan Partai Gerindra.

Mansur Hidayat, yang merupakan alumnus Fakultas Teknik UGM Yogyakarta, sebelumnya bekerja di sebuah BUMN yakni Hutama Karya. (*)

Dua Bulan Lebih Nyari Pembunuh Kok Nggak Berhasil!

ISTRI saya jengkel mengikuti perkembangan berita kasus pembunuhan ibu dan anak perempuannya di rumah mereka di Subang, Jawa Barat, 18 Agustus 2021 lalu.

Sebab, meski sudah lebih dari dua bulan berlalu, tidak ada tersangka (atau para tersangka) pembunuh yang “berhasil ditangkap” polisi.

“Dua bulan lebih nyari pembunuh kok tidak berhasil!” katanya kepada saya, tadi pagi.

Sudah begitu, katanya melanjutkan, media massa online juga bikin jengkel karena menayangkan berita-berita tentang pembunuhan itu dengan bermain judul seolah-olah ada hal-hal baru.

“Judulnya cuma dibolak-balik, atau dibikin seolah ada yang baru padahal enggak ada misalnya ‘ada titik terang, ‘ditemukan bukti baru’, dan semacamnya. Hal baru sungguhan itu kan kalau tersangkanya ditangkap,” ujar istri saya.

“Polisi dan wartawan sama saja,” katanya lagi.

Saya, yang pensiunan wartawan, tersenyum kecut mendengar kalimat terakhirnya itu.

Lalu saya bilang bahwa kalau tidak ada hal yang benar-benar baru dalam tayangan media-media online maupun televisi, karena memang belum ada perkembangan yang signifikan dalam pengusutan oleh polisi.

“Nah berarti memang polisi yang tidak berhasil, to?!” sahut istri saya.

“Ya mungkin polisi maunya berhati-hati agar tidak terjadi salah tangkap dan sejenisnya,” kata saya.

Istri saya tak mau begitu saja menerima analisis saya.

“Nyatanya di tempat-tempat lain banyak kasus pembunuhan bisa terungkap, bahkan ada yang hanya itungan jam,” ucapnya.

Namun kami tak melanjutkan pembicaraan tentang kasus pembunuhan di Subang itu karena istri saya kemudian berangkat ke restonya, yang berjarak sekitar 70 meter dari rumah.

Sesudah istri pergi, saya kemudian menyelesaikan sejumlah pekerjaan di rumah lalu, saat senggang saya nikmati tayangan film Barat di televisi.

Salah satu film yang tayang di channel AXN di televisi berlangganan saya tadi adalah serial CSI (Crime Scene Investigation), film lama yang baru ditayangkan sejak beberapa pekan lalu.

Film ini mengisahkan tentang (keberhasilan-keberhasilan yang cepat) tim forensik di Las Vegas, Amerika Serikat.

Saya senang menyaksikan serial ini tetapi tidak akan menceritakan ke istri saya. Sebab, saya khawatir, kalau dia tahu tentang film ini, dia akan mengusulkan kepada Kapolri agar menugasi Kapolda Jabar agar menyewa tim CSI demi keberhasilan-cepat pengusutan kasus pembunuhan ibu dan anak wanitanya di Subang…. (*)

Balibul Itu Apa?

BALIBUL itu apa? tanya seorang kawan saya dalam sebuah grup WA tatkala saya share foto di atas ke grup itu.

Saya tertawa sambil memandang layar ponsel sebelum mengetik kalimat ini : balibul itu maksudnya kambing usia di bawah lima bulan alias kambing muda untuk bahan sate dan sejenisnya.

Sesungguhnya saya sendiri baru tahu maksud balibul —kata yang terdengar lucu— ini sekitar empat bulan lalu, juga dari sebuah grup WA.

Saya juga belum lama tahu bahwa selain balibul ada pula batibul : (di) bawah tiga bulan.

Jauh sebelumnya, dulu yang saya tahu di kota saya, Solo, penjual sate kambing hanya menyebut “sate kambing muda” untuk mempromosikan dagangannya —yang empuk dagingnya— tanpa merinci usia sang kambing.

Ternyata kini di Solo pun penjual merinci dengan singkatan balibul dan batibul —istilah yang ternyata populer di Kota Tegal yang berjarak sekitar 257 km dari Solo.

Benar, batibul dan batibul memang sate khas Tegal.

Foto yang saya pasang di atas juga menyebut sate Tegal kambing muda. Foto yang saya jepret di sebuah rumah makan balibul tak jauh dari rumah saya, yang baru dibuka sekitar tiga pekan lalu. (*)

Nama Panggilan Baru Politikus Lawas

KARENA tidak terlalu mengikuti berita-berita politik terkini, saya jadi telat tahu bahwa politikus lawas Muhaimin Iskandar (55 tahun) ternyata punya nama panggilan Gus Muhaimin.

Itu pertama kali saya ketahui dari sebuah baliho besar di pojok perempatan dekat rumah saya sejak beberapa hari lalu (dan baru saya foto tadi pagi).

Sungguh, meski mungkin sepele, nama panggilan Gus Muhaimin ini hal baru bagi saya. Sebab, yang saya tahu, nama panggilan populer ketua umum DPP PKB yang juga wakil ketua DPR RI dan mantan menteri tenaga kerja dan transmigrasi ini adalah Cak Imin.

Maafkan ketelat-tahuan saya, ya, Gus Muhaimin.

O ya, walaupun tidak kenal dekat, andai bersua Gus Muhaimin pasti masih mengingat diri saya.

Sebab, tatkala Cak Imin belum ngetop, sejak pertengahan 1998 (hingga 2004) di Jakarta saya sering mewancarainya baik wawancara langsung maupun by phone.

Waktu itu saya enam tahun bekerja sebagai jurnalis Tabloid Bangkit sekaligus Harian Surya (Surabaya) di Biro Jakarta.

Pada pertengahan 1998 Cak Imin yang kala itu berusia 32 tahun (kelahiran September 1966, Red) masih ‘hanya’ menjabat Sekjen DPP PKB.

Ia jadi pesohor selain karena politikus muda dengan segudang pengalaman, juga lantaran merupakan keponakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), mantan ketua umum PBNU yang kala itu menjabat ketua umum DPP PKB dan kemudian menjadi presiden.

Karier politik Cak Imin mulai moncer saat Pemilu 1999 ia terpilih sebagai anggota DPR RI dari PKB lalu menjabat ketua Fraksi PKB sekaligus wakil ketua DPR RI.

Ia kemudian terpilih pula sebagai ketua umum DPP PKB, sampai kemudian ke puncak kariernya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Turun dari jabatan menteri, karier politik Cak Imin belum tamat : terpilih lagi sebagai anggota (dan kemudian wakil ketua) DPR RI sejak 2019 hingga 2004 mendatang.

Dulu, sejak 1998, saat Cak Imin menjadi wakil ketua DPR RI dan sekjen DPP PKB saya masih sering bertemu dia karena, kala itu, saya sering meliput ke gedung dewan dan ke kantor (maupun acara-acara) PKB.

Sampai akhirnya sejak 2004 saya tidak bertemu Cak Imin karena saya dipindahkan dari Biro Surya Jakarta ke Mabes Harian Surya di Surabaya.

Adapun saya terakhir bertemu Cak Imin pada 1 September 2019 di Solo saat sama-sama menghadiri acara mantu tokoh Solo yang sangat dekat Presiden Joko Widodo (Jokowi) yakni Habib Hasan Mulachela (kini Hasan sudah meninggal, Red).

Kami tak sempat ngobrol lama seusai acara karena Cak Imin harus segera ke bandara untuk terbang kembali ke Jakarta.

Lebih dari dua tahun berlalu, sampai kemudian beberapa hari lalu saya lihat baliho besar di pojokan sebuah perempatan dekat rumah saya, dan tertera nama panggilan Gus Muhaimin, dilengkapi jabatan yang saya juga baru tahu : Panglima Santri…. (*)

Alpukat Sedang Bersahabat

ALPUKAT hari-hari ini sedang tidak merepotkan istri saya (dan saya), sedang bersahabat dengan kami.

Karena sedang musim maka hari-hari ini alpukat mudah didapat dengan harga murah, atau normal, Rp 21.000 per kilogram.

Kala tidak musim, langka, harga bisa mencapai Rp 47.000 atau bahkan lebih, per kilogram.

Begitulah hukum pasar.

Tapi, tunggu dulu, apa hubungan alpukat dengan istri saya dan saya?

Begini. Alpukat jadi salah satu buah yang tiap hari wajib ada di resto istri saya di Solo, Warung Selat Mbak Lies, sebagai bahan es jus.

Tiap hari, ada pedagang buah yang memasok alpukat ke istri saya.

Kalau alpukat sedang langka, pasokan seret, maka saya bisa ikut repot karena harus ikut berburu ke toko-toko buah, bahkan ke toko-toko swalayan gede juga seperti Hypermart atau Super Indo.

Bahkan kadang-kadang kami harus mencarinya hingga keluar kota, sambil kulakan sayur-mayur, ke Pasar Wisata Tawangmangu.

Sedangkan jika alpukat sedang bersahabat seperti sekarang, saya senang karena tidak ikut jadi kerepotan, terlebih istri saya —sangat senang.

Sebab, jus alpukat menjadi menu minuman berharga paling tinggi di restonya, Rp 22.000 per gelas, dan termasuk minuman favorit para pembeli. (*)

Tahu dari Mana?

ANDA pasti pernah baca gojekan-tidak-mutu semacam ini :

A : Bos, di kampung sebelah tadi malem ada pembunuhan, lho.

B : Mosok, sih? Tahu dari mana?

A : Dari Sumedang….

(Tahu) dari Sumedang. Terkenal nian tahu dari daerah Sumedang, Jawa Barat.

Padahal, daerah lain, Kediri di Jawa Timur, juga terkenal sebagai daerah asal Tahu yang top, yang foto tahunya saya pasang di atas itu.

Tapi tahu (dari Kediri) tidak pernah disebut dalam gojekan-tidak-mutu seperti dalam pembuka postingan ini. Sumedang melulu.

O ya tahu yang saya foto di atas adalah oleh-oleh dari kawan SMA saya yang sudah lama bermukim di Kediri, dan sekarang bersama suaminya sedang mudik ke Solo. (*)

Siapa Masih Dolanan Bekel?

YA, siapa yang sekarang masih bermain (dolanan) bekel?

Saya, pun orang-orang di sekitar saya, tidak.

Sudah sejak lama, sejak bertahun-tahun silam, saya dan mereka tidak bermain dolanan tradisional tersebut.

Tapi di tempat lain pasti masih ada yang dolanan bekel, karena nyatanya alat permainan (anak-anak) itu masih ada dijual —dan laku— termasuk di resto istri saya.

Siapa pembelinya?

Kata istri saya, biasanya bapak-bapak atau ibu-ibu yang tertarik membeli bekel setelah selesai menikmati menu Selat Solo atau menu lain.

Mungkin mereka membeli untuk kemudian dipakai sendiri di rumah sebagai bahan bernostalgia.

Atau mungkin untuk memperkenalkan mainan tradisional bagi anak atau cucu mereka.

Tapi jika benar bekel itu dibeli untuk anak atau cucu, akankah sang bocah suka?

Sebab, jamak di mana-mana, bocah zaman now sangat akrab dengan ponsel pintar yang bisa dipakai bermain games daripada dolanan tradisional. (*)

Mendadak Garasi

ADA sedikit kesibukan di seberang rumah saya, tadi malam (Jumat, 15-10-2021).

Tuan rumah di sana mempekerjakan lima tukang bangunan untuk membuat jalan masuk mobil ke rumahnya.

Dengan begitu, nanti dalam rumah bagian depan itu sekaligus akan difungsikan tetangga saya sebagai garasi mobil, terutama pada malam hari.

Selama ini, city car Suzuki Karimun miliknya jika malam hari diparkir begitu saja di depan rumah, sedangkan pagi sampai sore dipakai bekerja.

Sampai kemudian ada kegiatan TMMD (Tentara Manunggal Membangun Desa) Sengkuyung di wilayah kelurahan saya, yang proyeknya memperbaiki saluran air di sepanjang seberang rumah saya, yang berarti termasuk depan rumah pemilik Karimun itu.

Setelah proyek selesai, kondisi di depan rumah itu tak memungkinkan lagi untuk tempat parkir mobil sehingga pemilik rumah pun mempekerjakan lima tukang bangunan untuk mekbuat jalan masuk mobil ke rumahnya….

Selama ini sejumlah warga di dekat rumah saya memang memiliki mobil tapi tidak punya garasi sehingga kemudian memarkir mobil mereka di pinggir jalan di sepanjang jalan depan rumah saya.

“Tampaknya jalan kita ini sekaligus tempat parkir mobil terpanjang di dunia,” kata seorang tetangga, berseloroh kepada saya. (*)